Selasa, 19 Oktober 2010

Pendekatan Teoritis

Kajian komunikasi politik bersifat spesifik, karena materi bahasan terarah kepada topik tertentu yaitu politik dan aspek-aspek yang tercakup di dalamnya.

Secara filosofis kajian komunikasi politik adalah hakikat kehidupan manusia untuk mempertahankan hidup dalam lingkup berbangsa dan bernegara.

Setiap negara akan selalu berorientasi kepada fungsi primer negara yaitu tujuan negara. Tujuan ini dapat dicapai apabila terwujud sifat-sifat integratif dari semua unsur penghuni negara.

Dalam kenyataan empiris pengaturan hak-hak berkomunikasi tidak dapat digeneralisasikan ke dalam satu pola sistem. Dalam kenyataan terdapat empat macam sistem komunikasi politik, yaitu: sistem otoriter, sistem liberal, sistem komunis dan konsep tanggung jawab sosial.

Pada dasarnya keempat sistem tersebut dapat dikualifikasikan ke dalam dua polar, yaitu: polar totaliter dan polar demokrasi.

Unsur-unsur komunikasi yang sangat menentukan berhasil tidaknya proses komunikasi yaitu unsur komunikator karena komunikator dapat mewarnai atau mengubah arah tujuan komunikasi.

Sumber komunikasi dapat berupa ideologi, paham, pola keyakinan, dapat pula berupa seperangkat norma-norma dan dokumen-dokumen yang tersimpan rapi. Atau dapat pula berasal dari kitab suci para pemeluk agama.
Objek Kajian Komunikasi Politik: Perilaku Penguasa, Pola Keyakinan dan Pendapat Umum (Public Opinion)

Sikap perilaku penguasa (elit berkuasa) memberi dampak cukup berarti terhadap lalu lintas transformasi pesan-pesan komunikasi baik yang berada dalam struktur formal, maupun yang berkembang dalam masyarakat.

Elit politik berada dalam struktur kekuasaan dan elit masyarakat. Sebagai elit berkuasa ia mampu mengendalikan dan menjalankan kontrol politik, sekaligus mengendalikan sumber-sumber komunikasi.

Kebesaran suatu bangsa bergantung kepada kemampuan rakyat, masyarakat umum, dan massa untuk menemukan simbol dalam orang pilihan, karena orang pilihlah yang mampu membimbing massa. Elit terdapat lima macam tipe, yaitu: elit kelas menengah, elit dinasti, elit kolonial, kaum intelek revolusioner dan pemimpin-pemimpin nasional.

Pada prinsipnya teori kepemimpinan meliputi empat macam teori, yaitu: Unitary traits theory, Constellation of traits theory, Situasional theory dan Interaction theory.

Setiap pemimpin dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi, membentuk sikap dan perilaku khalayak, masyarakat yang mendukung terhadap aktivitas kepemimpinannya.

Paham Marxisme yang dikenal ideologi komunis bukan hanya sebagai sistem politik, tetapi juga sebagai cerminan gaya hidup yang berdasar nilai-nilai tertentu.

Homophulus yang bersumber pemikiran seseorang tidak mencerminkan sifat-sifat integratif, terutama bagi negara-negara yang terdiri dari berbagai pola keyakinan.

Dalam masyarakat pluralis lebih mengembangkan nilai-nilai demokrasi, yaitu mengembangkan dan meningkatkan pertukaran ide, pendapat dan pemikiran-pemikiran positif.

Pendapat umum merupakan unsur kekuatan politik yang memiliki dasar moral dan selalu cenderung kepada kebenaran dan menghargai nilai-nilai normatif.

sumber ; www.wikipedia.com

eksperimen laboratorium

Eksperimen evolusi jangka panjang E. coli


Eksperimen evolusi jangka panjang E. coli merupakan suatu kajian mengenai evolusi yang dilakukan oleh Richard Lenski untuk melacak perubahan-perubahan genetik pada 12 populasi bakteri Escherichia coli yang pada awal eksperimennya hampir identik. Eksperimen ini dilakukan sejak tanggal 24 Februari 1988 sampai dengan sekarang.[1]

Sejak bermulainya eksperimen ini, Lenski dkk. telah melaporkan berbagai macam perubahan genetik yang terjadi pada kedua belas koloni bakteri tersebut. Beberapa adaptasi evolusioner telah terjadi pada kedua belas populasi tersebut. Salah satu adaptasi yang paling mencolok adalah evolusi bakteri E. coli yang mampu tumbuh dalam media pertumbuhan asam sitrat.

sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Eksperimen_evolusi_jangka_panjang_E._coli

perbandingan teori-teori

jurnal Ilmiah Psikologi PSIKOBUANA menggelorakan riset, pertukaran akademis serta praktik profesional yang berkenaan dengan persoalan-persoalan psikologis

teori belajar, yaitu teori belajar yang dikemukakakan psikologi tingkah laku bunga tunggal, bunga majemuk, perbandingan, anuitas, dan deret geometri, sehingga

Yang berbeda, kelompok ini juga menerima konsep-konsep psikologi transpersonal dari aliran pramodern dan Calvin S. dkk, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Kanisius, Cetakan

Menurut kelompok teori-teori ini, cikal bakal dari krisis adalah KELOMPOK TEORI OVERINVESTMENT. Inti dari teori-teori overinvestment adalah bahwa investasi

http://mediaindonesia.co.cc/search/label/perbandingan+teori-teori+psikologi+kelompok

studi stimulus komputer

Science dan neuroscience
Buku, artikel, diskusi, pelatihan, musik, film, bahkan makanan saat ini selalu saja diwarnai dengan kata menguak misteri otak. Mulai otak tengah, otak besar, otak kiri dan kanan, dan otak anak. Tag yang bertebaran, mulai dari stimulai otak anak, menyeimbangkan otak kiri dan kanan, mengaktivasi otak tengah, restorasi otak, dan seterusnya.

Penelitian neuroscience (ilmu yang membahas tentang otak) kini memang sedang berkembang, antara lain yang ramai adalah penggunaan neurofeedback, atau disebut juga biofeedback. Caranya, si anak diberi stimulus auditory dan visual dengan menggunakan permainan games dengan komputer, maupun stimulus getaran-getaran. Dengan getaran-getaran, suara musik atau berbagai bunyian, games atau film warna warni, maka alat pencatat gelombang otak yang disebut Electro-encephalogram (EEG) akan mencatat daerah mana di bagian otak itu yang memberikan respon. Begitu juga berapa besar dan cepat responsnya. EEG akan mencatat gelombang itu dalam bentuk gelombang yang tingginya tidak sama pada setiap aktivitas otak.

Awalnya bertujuan untuk menjawab berbagai asumsi yang muncul di kepala para ahli syaraf atau neurolog yang senang dengan riset-riset ilmiah, untuk melihat kondisi-kondisi tertentu dari pasien neurologi. Misalnya untuk melihat kondisi pasien pasca kecelakaan, kondisi pasien epilepsi, pasca operasi otak, dan lama-lama pada anak-anak yang mempunyai gejala gangguan perkembangan neurologis. Hasil-hasil risetnya kemudian diaplikasikan di dalam klinik guna membantu penegakan diagnosa.

Metoda neurofeedback ditemukan oleh seorang dokter Amerika, Dr. Barry Sterman dari Universitas California di tahun 1960. Selama 20 tahun terus menurus dilakukan penelitian dan pada tahun 1980 mulai dilakukan penelitian di dalam klinik untuk anak dengan gangguan konsentrasi. Harapannya dengan pembelian stimulus dari luar, maka bioelektrik otak yang terjadi sebagai hasil dari perubahan arus neurotrasmitter (zat pembawa arus listrik) akan bisa diatur. Dari sana kemudian terus dikembangkan ke arah anak-anak bergangguan lainnya, seperti gangguan belajar, gangguan perkembangan kognitif, depresi, dan sebagainya. Modifikasi alatpun semakin beragam, begitu juga stimulus yang diberikan semakin bermacam-macam.

Prinsip dasar neurofeedback

Neurofeedback atau disebut juga electro-encephalograph biofeedback, yang kini banyak digunakan sebagai alat terapi, melakukan monitoring kondisi bioelektrik otak dengan tujuan akhir menormalisasi fungsi otak. Artinya apabila misalnya seorang anak yang mempunyai masalah konsentrasi, impulsif, gangguan belajar, epilepsi, ataupun orang dewasa yang mengalami keadaan depresi yang terus menerus, dimana memang terjadi kondisi bioelektrik yang tidak normal, maka kondisi ini diharapkan dapat dinormalkan. Dan fungsi kerja otak diharapkan juga dapat menjadi normal.

Terapinya sangat sederhana, si penderita diminta untuk mengerjakan sesi terapi dengan cara melihat layar komputer, mendengarkan musik, atau juga dengan getaran-getaran magnet yang dikirim ke permukaan kulit kepala. Dengan stimulasi ini diharapkan bioelektrik yang tidak normal akan terangsang ke arah apa yang kita inginkan. Misalnya pada anak ADHD lebih banyak mempunyai gelombang beta1 yaitu 12 – 18 HZ, maka gelombang ini diturunkan ke arah beta2 atau 4-8 HZ.

Diharapkan dengan berkali-kali latihan demikian, maka otak akan terangsang melakukan kondisi yang diharapkan menjadi suatu kebiasaan.

Berbagai penelitian neurofeedback

Namun bagaimana literatur ilmiah berbicara tentang neurofeedback therapy ini? Hingga saat ini masih belum ada kesimpulan yang konklusif tentang keberhasilan kerja neurofeedback ini. Sejak pertama kali percobaan neurofeedback dari tahun 1960 sudah ada sekitar 1000 publikasi neurofeedback therapy ini. Kebanyakan studi-studi itu menunjukkan bahwa laporan studi itu harus disingkirkan karena adanya masalah: tidak ada kelompok kontrol, kelompok percobaan terlalu kecil, adanya perbedaan pemberian perlakuan – orang percobaan terlalu bervariasi, diagnosanya tidak jelas, kriteria tidak jelas, kesimpulan peneliti tidak benar, tidak meliwati bijak bestari (peer reviewers), statistik salah, tidak menunjukkan disain sebelum dan sesudah perlakuan (before and after treatment), dan tidak ada studi lanjutan yang spesifik. Penelitian-penelitian yang dilakukan pada anak-anak bermasalah belajar, gangguan konsentrasi dan disleksia, menunjukkan bahwa ada kemajuan dalam konsentrasi namun saat dilakukan pemeriksaan kemajuan prestasi sekolah tidak menunjukkan apa-apa. Akhir kata, neurofeedback therapy ini terlalu banyak janji dan ujungnya selalu diisi dengan: perlu penelitian lebih lanjut. Padahal sudah 50 tahun dilaksanakan penelitian untuk ini.

Placebo effect

Di banyak negara maju seperti di Eropa, memang sudah banyak tumbuh klinik-klinik neurofeedback therapy ini. Namun hingga saat ini terapi semacam ini masih dianggap sebagai terapi alternatif moderen. Belum masuk ke dalam terapi reguler dari bidang psikologi dan psikiatri. Karena itu masih belum dibayar oleh penggantian asuransi. Pasien psikiatri yang tidak menginginkan menggunakan obat-obatan psikotropika dari psikiater, apabila memang mempunyai uang dan membayar sendiri bisa memilih terapi ini. Terutama pada pasien gangguan konsentrasi, ADHD, atau depresi.

Namun dalam berbagai tawaran dengan menggunakan terapi ini, klinik-klinik tersebut juga menyediakan jasa psikolog sebagai pendamping dan psaien mendapatkan juga terapi lain yang dibutuhkan dari psikolog. Dengan begitu kita menjadi tidak tahu lagi apakah perbaikan terapi itu karena memang efek neurofeedback atau memang bimbingan dari psikolog. Sehingga orang sering juga mengatakan bahwa perbaikan yang dicapai oleh pasien hanyalah placebo effect.

Penyalah gunaan neuroscience menjadi pseudoscience

Hingga saat ini pihak asosiasi keilmuan, seperti misalnya asosiasi pediatricians Amerika menyatakan bahwa neurofeedback therapy dapat menjadi terapi pendukung bagi terapi utama gangguan ADHD, namun banyak sekali tawaran-tawaran terapi yang justru mengutamakan neurofeedback therapy ini menjadi terapi utama. Neurofeedback diketahui baru bisa memberikan dukungan terapi untuk mengurangi masalah gangguan konsentrasi pada ADHD. Hanya masalah konsentrasinya. Padahal ADHD mempunyai masalah cukup kompleks selain gangguan konsentrasinya. Ia juga impulsif, agresif, banyak gerak (hiperaktif), dan banyak yang mengalami komorbiditas dengan masalah-masalah neurologis lainnya, misalnya disleksia, gangguan motorik, gangguan sensorik, bahkan gangguan psikiatri lainnya. Gangguan psikiatri lainnya misalnya gangguan obsesive-compulsif, membangkang (Conduct Disorder), gangguan tidur, dan sebagainya. Karena itu berbagai asosiasi dalam bidang kedokteran dan psikologi, tetap meletakkan terapi pengobatan psikiatri dengan obat-obatan psikotropika dan ditambah dengan terapi psikologi (terapi perilaku).

Tetapi di lapangan (begitu juga jika kita meng-google) kita bisa menemukan banyak sekali tawaran neurofeedback therapy ini untuk segala macam gangguan, bahkan dilaporkan dapat menyembuhkan yang dibumbui dengan cerita-cerita sudah dilakukan penelitian bertahun-tahun, tetapi tidak dijelaskan penelitian siapa dan sumbernya apa. Memang betul bahwa penggunaan neurofeedback sudah dilakukan bertahun-tahun, tetapi hasilnya masih sangat minim sekali. Kecuali melatih konsentrasi, neurofeedback dilaporkan belum bisa memberikan sumbangan apa-apa.

Tetapi para penjaja neuroscience yang akhirnya hanya menjajakan ilmu palsu atau pseudoscience seringkali menawarkan hal-hal diluar informasi ilmiah. Apabila ditanya bagaimana dukungan hasil penelitian ilmiahnya, biasanya kelompok pseudoscience akan berkeras menjawab dengan bentuk-bentuk testemoni (pengakuan-pengakuan yang pernah mencobanya). Bisa dilihat disini video sebuah contoh penggunaan neurofeedback untuk penyandang autisme. Dalam video itu hanya dikemukakan berbagai testemoni dari penderita autisme. Beberapa diantaranya justru keluar dari kriteria autisme, hal yang dalam ilmu kedokteran maupun psikologi, tidak mungkin. Dalam video itu juga dijelaskan bahwa hingga saat ini tidak satu modelpun dalam kedokteran yang dapat digunakan untuk menterapi autisme (memang demikianlah, secara ilmu kedokteran autisme belum ada obatnya), tetapi dari video itu orang didorong untuk mencari upaya terapi alternatif autisme melalui neurofeedback. Disana dijelaskan bahwa dengan membangun konsentrasi hasil dari terapi, maka si anak dapat diberi pendidikan baik dalam kehidupan sehari-hari termasuk kepatuhan, komunikasi, meningkatkan kemampuan sosial maupun akademi, dan anakpun bisa mengaktualisasikan kecerdasannya. Dengan kata lain berbagai hambatan bisa diatasi. Dengan begitu orang bisa beranggapan bahwa gangguan autisme maupun gangguan lainnya (sosialisasi, emosi, belajar) disebabkan oleh gangguan konsentrasi, yang kemdian dapat diatasi dengan neurofeedback therapy. Jadi sekali dayung dua tiga pulau bisa terlampauinya. Tanpa melihat lagi masalah belajar bisa disebabkan oleh berbagai sebab bahkan bisa berbeda penyebabnya dengan masalah belajar pada autisme.

Padahal dunia ilmiah sudah mengetahui, masalah autisme ada dalam genetik. Dari penelitian-penelitian ilmiah didapatkan bahwa pada anak-anak kembar identik, akan mengalami kans secara siknifikan lebih besar bila didandingkan dengana anak kembar non-identik. Karena gangguan autisme merupakan gangguan yang majemuk dan parah, maka para ahli genetika hingga kini belum dapat menentukan genetic marker pada autisme secara tepat. Karena itu penelitiannya masih terus berlangsung. Selama penelitian masih berlangsung dan belum pasti bagaimana duduk persoalannya secara etik, pihak kedokteran belum bisa mengeluarkan bagaimana obat yang paling pas untuknya.

Pseudoscience menjajakan neurofeedback yang paling bohong adalah yang mengatakan bahwa stimulasi-stimulasi gelombang otak itu akan melesatkan jumlah neuron (sel syaraf) dan synaps-synapsnya. Otak memang mempunyai kelenturan perkembangan (plasticity) sehingga stimulasi memang dibutuhkan, tetapi tetap ada limitnya. Karena perkembangan otak manusia senantiasa dipengaruhi oleh genetiknya yang menjadi blue print perkembangan manusia.

sumber :wikipedia.org.com

field study

A field study is a term used by naturalists for the scientific study of free-living wild animals in which the subjects are observed in their natural habitat, without changing, harming, or materially altering the setting or behavior \\of the animals under study.Field study is an indispensable part of biological science. It helps to reveal the habits and habitats of various organisms present in their natural surroundings. Field studies is also an important featur

sumber :http://en.wikipedia.org/wiki/Field_study

teori sintalitas kelompok

Teori ini berpendapat bahwa untuk mendapat perkiraan-perkiraan ilmiah yang tepat, segala sesuatu harus dapat diuraikan, diukur dan diklasifikasikan dengan
tepat dan cermat.
Sintalitas kelompok merupakan salah satu ciri kepribadian kelompok yang terlihat juga mempegaruhi anggota-anggotanya. Kelompok mempengaruhi lingkungan atau kelompok yang dipengaruhi laingkungan menentukan tujuan dan eksistensi dari kelompok tersebut juga terjadi overlapping. Bahasa gampangnya dalam satu kelompok anggotanya dapat menjadi anggota dari kelompok lainnya juga.
Selain itu hubungan antar anggota kelompok, perilaku kelompok, dan pola organisasi kelompok juga saling mempengaruhi
sumber : www.mediaindonesia.com

teori produktivitas kelompok

Produktivitas kelompok yaitu afeksi dan keakraban anatar anggota kelompok. Teori Prestasi Kelompok (Theory of Group Achievement) Teori Prestasi kelompok dikemukakan oleh Stogdill pada tahun 1959. Stogdill menganggap bahwa teori-teori tentang kelompok pada umumnya didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis tertentu. Maka dari itu, Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan: ~masukan (input) ~variabel media ~prestasi (output) a.Masukan dari anggota Masukan dari anggota merupakan sumber input. Menurut Stogdill, kelompok adalah suatu sistem interaksi yang terbuka. Struktur dan kelangsungan sistem sangat bergantung pada tindakan-tindakan anggota dan hubungan antara anggota. Ada tiga elemen penting yang termasuk dalam masukan anggota, yaitu : interaksi sosial (menyatakan suatu hubungan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, interaksi ini terdiri atas aksi dan reaksi antara anggota-anggota kelompok yang berinteraksi); hasil perbuatan (bagian dari suatu interaksi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kerja sama, berencana, menilai, berkomunikasi, membuat kepetusan); dan harapan (kesediaan untuk mendapatkan suatu penguat, fungsi dari harapan ini adalah sebagai dorongan (drive), perkiraan tentang menyenangkan atau tidaknya dasil, dan perkiraan tentang kemungkinan hasil itu akan benar-benar terjadi). b. Variabel media Variabel media menjelaskan mengenai beroperasi dan berfungsinya suatu kelompok. Elemen-elemen yang ada di dalamnya, yaitu : struktur formal (struktur formal mencakup fungsi dan status dimana kelompok terdiri atas individu-individu yang masing-masingmembawa harapan dan perbuatannya sendiri) dan struktur peran (struktur peran mencakup tanggung jawab dan otoritas dimana individu yang menduduki posisi tertentu hampir tidak berpengaruh pada status dan fungsi posisi tersebut). c. Prestasi kelompok Prestasi kelompok merupakan output atau tujuan dari kelompok. Ada tiga unsur yang menentukan prestasi kelompok, yaitu : produktivitas (derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh perilaku kelompok), moral (derajat kebebasan dari hambatan-hambatan dalam kerja kelompok menuju tujuannya), dan kesatuan (tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasinya dalam kondisi yang penuh tekanan (stress).
sumber : www.psychology.media.com